Merawat Persahabatan, Merangkul Kebaikan

10:44:00 AM


Saya dan kak Adi sering membahas sahabat-sahabat lama kami dalam obrolan sehari-hari. Nggak kehitung banyaknya kami mengulang cerita pengalaman masing-masing saat masih berada dalam lingkaran persahabatan saat belum menikah, saya punya kenangan sendiri, Kak Adi juga punya kenangan sendiri. Selalu ada bahagia tersendiri mengingat cerita-cerita yang lalu.

Perjalanan empat tahun pernikahan kami, ternyata tidak menggeser arti sahabat dimasa lalu pada hati kami. Ya, sahabat punya ruang tersendiri di hati kami, dan kebersamaan kami tidak lantas menggantikan sahabat di masa lalu. Suami saya butuh ruang untuk tetap berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya, begitu pun saya.

Untuk saya pribadi selain suami saya, saya tetap membutuhkan sahabat di luar rumah, yang dengannya saya bisa bercerita apa saja tanpa harus berkecil hati. Saya begini bukan karena suami saya nggak asik, tapi lebih ke naluri perempuan kali ya, yang paling mengerti perempuan ya perempuan. Begitu kira-kira. 

Mungkin cuma saya saja yang merasa setelah menikah ada banyak banget yang berubah pada diri seseorang, salah satunya adalah persahabatann. Nggak sedikit yang tadinya sahabatannya lengket kayak lem korea mendadak berjarak. Bukan karena ada masalah, tapi jadi berjarak aja, jangankan ngobrol panjang, untuk sekedar nanya-nanya kabar aja udah nggak, saya tahu, menyiapkan waktu ngobrol dengan sahabat nggak mudah saat sibuk dengan urusan rumah dan anak, tapi juga nggak serumit itu. 

Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa persahabatan sama halnya dengan hubungan yang lain, kita yang memilih untuk bertahan atau 'berpisah'.

Untuk berpisah jelas mudah saja, cukup mengacuhkan, maka selesai. 

Untuk bertahan jelas butuh perjuangan. Seperti yang saya bilang di atas sebenarnya nggak serumit itu untuk mempertahankan persahabatan, karena intinya komunikasi. Dari komunikasi muncul kenyamanan untuk tetap bersama, bersahabat. Komunikasi sendiri nggak rumit juga, ngga harus panjang-panjang ngobrolnya, tapi setia dan mesra terus. Asiik. hehe.

Saya sendiri punya beberapa sahabat yang saya jaga, nggak banyak, tapi saya pikir mereka inilah 'soulmate' saya. Saya kepikiran membuat tulisan ini setelah ngobrol panjang dengan salah seorang sahabat saya, sahabat dari kuliah. Sejak kuliah sampai sekarang kami banyak beda, saya memilih di rumah sebagai IRT dan sebagai Pengajar tapi dengan perbedaan itu kami saling mengisi, bertukar informasi dan ide. Persahabatan kami yang kemarin sempat layu-layu kembali subur, ada banyak kebaikan yang terangkul. Kami juga pernah cekcok atau kesal-kesalan tapi semua bisa diselesaikan dengan ngobrol.

Setelah menutup telfon saya janji ke diri saya untuk merawat hubungan saya dengan sahabat-sahabat saya. Nggak apa-apa saya yang duluan nanya kabar, nggak apa-apa saya yang sering nelfon, mudah-mudahan seperti cinta yang akan tumbuh karena terbiasa. xixi.

Saya semakin bersemangat untuk merawat persahabatan yang saya miliki setelah menonton ceramah ustadz Adi hidayat tentang mereka yang bersahabat karena iman di akhirat nanti akan saling mencari :')

Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga. Lalu mereka tidak berjumpa dengan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu ketika di Dunia. Lalu mereka bertanya kepada Allah..

"Ya Rabb kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, yang sholat bersama kami, yang puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami, maka Allah berfirman 'Pergilah ke neraka lalu keluarkanlah sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun sebesar Zarrah"

Al Hasan Al Bashri berkata "Perbanyaklah sahabat-sahabat Mu'minmu karena mereka memiliki syafaat di hari kiamat"

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian. Maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang Aku"

T_T

Saya selama ini berdoa semoga hubungan persahabatan yang sudah kami punya bisa panjang, bukan hanya di Dunia tapi juga di Akhirat. Salah satu mega proyek saya kedepan adalah menjalin banyak hubungan persahabatan kemudian merawatnya.

Setelah membaca pesan Ibnul Jauzi, rasanya aneh jika kita masih cuek-cuek pada orang-orang yang menganggap kita sahabatnya. Mencari sahabat mungkin seperti mencari pasangan hidup, harus ada kecocokan jiwa. Tapi percayalah kecocokan itu bisa diatur. Jika saat ini belum punya sahabat maka segeralah cari, jika sudah ada maka rawatlah. Dan tahukan siapa sahabat terbaik itu? dia yang banyak memberi dan selalu mengajak menjadi baik. Mari Fastabiqul Khairat!

Selamat berhari Jum'at. Jangan lupa tanyakan kabar sahabatmu minimal ingatkan untuk baca Al Kahfi :)

You Might Also Like

1 comments

  1. iyaaa susah cari sahabat yg bsa awet banget gt.. semoga aq bisa nemuin yg kyak gt yaa... sahabat dunia akhirat.. salam kenal

    ReplyDelete

I'm Proud Member Of