Belajar Bahagia Dari Rumah

3:21:00 PM


Dulu waktu masih kerja kantoran saya selalu bertanya-tanya apa gerangan me time yang sering dibahas ibu-ibu di tempat kerja, dulu itu saya sempat jumawa kalau saya tidak akan galau membersamai anak saya seharian, saya akan menikmatinya toh tidak akan lama saya membersamainya. 

Kenyataannya, sekarang ada masa-masa saya galau ingin lari ke hutan, hahaha. Dulu awal-awal menjadi seorang ibu, saya masih malu-malu mengakui kalau saya ini sering galau, sering mikir ingin ini itu, butuh waktu untuk sendiri, terkadang malas mengulang rutinitas yang sama di rumah, kadang pusing sendiri ngelihat cucian yang numpuk dan rumah yang berantakan. 

Sekarang tidak lagi, saya terang-terangan bilang ke suami kalau saya butuh waktu untuk sendiri, saya juga bilang ke Ruwaid kalau saya minta waktu sebentar untuk istirahat. Intinya saya jujur mengakui apa yang saya mau, setelah itu saya mencari celah untuk bisa berbahagia dengan keinginan saya tanpa mengacuhkan Ruwaid dan suami saya. Menjadi ibu memang membuat saya tidak lagi sama, tapi menjadi ibu juga bukan berarti saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Mungkin untuk ibu-ibu lain ini yang saya rasain ini biasa saja, tapi untuk saya yang banyak maunya ini berasa banget susahnya menyeimbangkan hidup. haha

Egois, nggak lah. Malah yang saya rasain setelah mengambil waktu untuk diri sendiri walaupun cuma sebentar bikin pikiran saya tenang, saat pisah sebentar dengan Ruwaid dan suami saya jadi kangen dan makin merasa betapa beratinya mereka. Saya yakin setiap orang nggak sama dalam hal ini, tapi mengambil jarak sebentar dengan orang-orang yang kita sayang memang bikin tambah sayang.

Jadi sudah enam pekan ini setiap hari ahad saya pergi tarbyah (ikut kajian), Ruwaid saya tinggal di rumah sama suami. Saya keluar rumah sendiri saja, dalam perjalanan saya biasa nulis-nulis di handphone, melamun, memikirkan banyak hal, di tempat tarbyah saya bisa belajar tanpa buru-buru dan lebih fokus, hasilnya saya merasa lebih bahagia. Pas pulang, acara beres-beres yang nggak abis-abis di rumah bisa saya jalani dengan senang hati, berasalah bahwa me time untuk saya sangat penting. Sejak ngerasain betapa me time membawa perubahan dalam hari-hari saya jadilah dikit-dikit saya bilang ke suami kalau saya mau me time dulu nih, sekarang mau ke toilet pun saya ganti redaksinya jadi ogut me time ke belakang dulu ya beb. 

Kemarin saya baca buku 7 kebiasaan anak bahagia, buku ini niatannya untuk Ruwaid, tapi setelah saya baca bukunya, saya merasa kebahagian saya naik beberapa baris kayak batrei hape yang lagi dicas, kebiasaan yang paling buru-buru ingin saya praktekan adalah kebiasaan satu. Disitu diceritain kalau kita bertanggung jawab sama diri kita sendiri, kebahagian kita, mencintai diri sendiri. Kita nggak bisa mengontrol orang lain untuk ngelakuin apa atau ngomong apa tapi kita bisa memilih respon kita. Intinya saya yang bertanggung jawab atas apa yang saya rasain. Intinya setelah me time tergantilah semua duka. Tergantikan dengan semangat 45 beresberes rumah. 

Everyday is beresberes day, ya begitulah kehidupan IRT,  tapi beres beres nggak cuma di rumah aja, batin pun perlu diberesin agar bahagia karena sesungguhnya kebahagian seorang istri menentukan enak enggaknya makanan yang ada di rumah, bersih enggaknya cucian, dan tentu terawatnya anak-anak. Pasti nggak akan mudah membahagiakan orang lain terutaman keluarga sedang diri sendiri nggak bahagia, kan? Bagaimana menurut kalian?

Bahagia di rumah akan memudahkan belajar banyak hal,  belajar mencintai diri sendiri dari rumah, belajar berubah dari rumah, belajar bahagia dari rumah.

Happy Weekend



:)

You Might Also Like

1 comments

  1. Wah, blog nya inspiratif mbak.. Bookmark ah.. Salam kenal ^^

    ReplyDelete

I'm Proud Member Of